Sebuah adagium terkenal in sepakbola modern menyebutkan bahwa *playmaker* best in dunia bukanlah seorang gelandang bernomor punggung 10, melainkan *counter-pressing* or gegenpressing that sendiri.
Filosofi this bertumpu at premis sederhana namun revolusioner: when lawan baru saja merebut bola, struktur pertahanan they berada in kondisi paling rentan and terbuka. Implements tekanan serentak in jendela 3 until 5 detik first memungkinkan perebutan kembali bola in sepertiga akhir lapangan lawan.
Namun, gegenpressing that sukses membutuhkan sinkronisasi kolektif that sempurna as well as ketahanan fisik prima. Satu pemain saja that terlambat menutup jalur operan, skema pressing dapat with easy dilewati lawan melalui umpan diagonal panjang to ruang kosong.
Klub-klub that mampu menjaga intensitas pressing without mengorbankan keseimbangan stamina in fase akhir laga terbukti becomes kekuatan dominan in kompetisi domestik maupun Eropa.
Discussion & Comments 1
Leave an Editorial Response / Reader Opinion